TANTANGAN DAN PELUANG PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM UPAYA TURUT MEMBANGUN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal penting dalam sistem pendidikan nasional. Sejalan dengan hal itu, termasuk penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di satuan-satuan pendidikan, pemerintah memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan dengan membuat beberapa program dengan skala prioritas tertentu. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian dari program penguatan metodologi dan kurikulum dalam Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Upaya ini berupa penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Tulisan ini menguraikan konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa, landasan pedagogiknya, fungsi, tujuan, nilai-nilai, prinsip pengembangan, serta tantangan dan peluang pembelajaran matematika dalam upaya turut membangun budaya dan karakter bangsa di satuan pendidikan. Guru matematika di sekolah-sekolah diharapkan tidak saja dapat mengelola pembelajaran matematika dengan baik namun juga dapat mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, baik dalam kegiatan pembelajaran matematika, maupun dalam pengembangan diri siswa, kegiatan, dan budaya sekolah secara lebih luas.

Kata kunci: pembelajaran matematika, budaya dan karakter bangsa.

Pendahuluan

Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal penting dalam sistem pendidikan nasional. Pada saat ini, umumnya satuan-satuan pendidikan sudah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam penerapan KTSP itu, pembelajaran diharapkan diselenggarakan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pada sisi lain,  dalam proses pembelajaran pendidik diharapkan dapat memberikan keteladanan bagi peserta didiknya. Hal ini merupakan tuntutan sebagaimana termaktub dalam pasal 19 ayat (1) dan (2) mengenai Standar Proses dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dalam struktur KTSP. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar (SD) untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Sejalan dengan hal itu, termasuk dengan penerapan KTSP, saat ini pemerintah memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan dengan membuat beberapa program dengan skala prioritas tertentu. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2010, pemerintah mengeluarkan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian dari program penguatan metodologi dan kurikulum dalam Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 di atas. Upaya ini berupa penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

Kenyataan menunjukkan bahwa pembelajaran di banyak sekolah belum  diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pada sisi lain,  dalam proses pembelajaran banyak pendidik belum dapat memberikan keteladanan bagi peserta didiknya. Hal ini berdampak pada tujuan pendidikan nasional di atas, termasuk tujuan pembelajaran matematika, yang belum begitu tercapai secara optimal. Keberhasilan peserta didik menyelesaikan pendidikannya di suatu satuan pendidikan lebih banyak diwarnai oleh deskripsi aspek-aspek kognitif dan/atau aspek psikomotorik; aspek afektif belum begitu banyak mewarnai peta keberhasilan mereka selama menempuh pendidikan dan pembelajaran.

Fenemena kehidupan yang lebih luas dan beragam di masyarakat merupakan satu dari kehidupan bangsa kita, termasuk kehidupan pendidikan kita. Akhir-akhir ini makin marak muncul fenomena yang kurang mendidik, seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan sebagainya. Fenomena ini merupakan tantangan yang besar dan kuat terhadap dunia pendidikan. Oleh karena itu, upaya mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa di seklah-sekolah merupakan sebuah keniscayaan.

Tulisan ini menguraikan konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa, landasan pedagogiknya, fungsi, tujuan, nilai-nilai, prinsip pengembangan. Di samping itu, yang lebih dikaji adalah tantangan dan peluang pembelajaran matematika dalam upaya turut membangun budaya dan karakter bangsa di satuan pendidikan.

Konsep Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Sesuai dengan Undang-Undang (UU) tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) maka pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3 UU Sisdiknas).

Untuk menjalankan fungsi dan mencapai tujuan pendidikan di atas, pemerintah, sekolah, dan masyarakat tentu memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Peran penting ini diharapkan dapat berjalan secara sinergis dan saling mendukung sehingga pencapaian tujuan pendidikan nasional di atas dapat diwujudkan secara optimal oleh bangsa Indonesia. Upaya ini tentu tidak terlepas dari kultur budaya dan karakter bangsa Indonesia sendiri.

Pada buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Budaya (Pusat Kurikulum, 2010) dijelaskan mengenai budaya dan karakter. Budaya adalah nilai, moral, norma dan keyakinan (belief), pikiran yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa dan mendasari perilaku seseorang sebagai dirinya, anggota masyarakat, dan warga negara. Budaya mengatur perilaku seseorang mengenai sesuatu yang dianggap benar, baik, dan indah. Karakter adalah watak yang  terbentuk dari nilai, moral, dan norma yang mendasari cara pandang, berfikir, sikap, dan cara bertindak seseorang serta yang membedakan dirinya dari orang lainnya. Karakter bangsa terwujud dari karakter seseorang yang menjadi anggota masyarakat bangsa tersebut.

Pada buku di atas juga dijelaskan mengenai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah pendidikan yang  mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri peserta didik sehingga menjadi dasar bagi mereka dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat, dan warga negara. Nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dimiliki peserta didik tersebut menjadikan mereka sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kekhasan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah sebagai berikut.

  1. Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa.
  2. Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat.
  3. Penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Sementara itu, tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah sebagai berikut.

  1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
  2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
  4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Terdapat cukup banyak nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran atau pendidikan di sekolah. Nilai-nilai itu adalah: 1) religius, 2) jujur, 3) toleransi, 4) disiplin, 5) kerja keras, 6) kreatif, 7) mandiri, 8) demokratis, 9) rasa ingin tahu, 10) semangat kebangsaan, 11) cinta tanah air, 12) menghargai prestasi, 13) bersahabat/komuniktif, 14) cinta damai, 15) gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17) peduli sosial, dan 18) tanggung-jawab.

Berikut ini prinsip-prinsip pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

  1. Berkelanjutan
  2. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah
  3. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan
  4. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.

Pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Mereka melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, kemudian menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan ini, peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri mereka sendiri sebagai makhluk sosial dalam kehidupan.

Tantangan dan Peluang Pembelajaran Matematika

Pembelajaran matematika merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan yang ada di sekolah. Sebagai bagian integral, tentu pembelajaran matematika memiliki peran dan fungsi yang penting dalam rangka turut mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, atau tujuan pendidikan nasional pada umumnya.

Pembelajaran matematika, seperti diuraikan pada bagian awal tulisan ini, perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari SD untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Sejalan dengan dasar pemikiran di atas, pembelajaran matematika mulai banyak mengalami pergeseran paradigma, salah satunya dari paradigma teacher centered ke paradigma student centered. Pergeseran paradigma ini membawa implikasi terhadap pengelolaan pembelajaran matematika yang memberi kesempatan lebih luas bagi peserta didik untuk belajar matematika

Pengalaman dan hasil observasi penulis terhadap banyak guru mata pelajaran matematika maupun guru kelas di SD yang mengelola pembelajaran matematika menunjukkan beberapa hal yang masih menjadi tantangan dalam mengembangkan pembelajaran matematika sesuai dengan harapan di atas. Sebagai contoh, masih banyak  siswa ‘belum cinta’ dengan matematika atau dengan belajar matematika. Hal ini terungkap ketika mereka ditanya mengenai mata pelajaran apa yang paling mereka senangi. Umumnya, mereka tidak mengatakan bahwa mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang paling mereka senangi. Hanya sebagian kecil siswa yang mengatakan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang mereka senangi.

Belum cintanya siswa dengan belajar matematika juga tampak ketika mereka belajar matematika di sekolah. Pengamatan penulis menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum begitu bersemangat ketika belajar matematika. Sebaliknya, mereka  belajar matematika seolah dalam keadaan ‘takut’ ataupun ‘segan’ dan belum menunjukkan perasaan ‘cinta’ terhadap matematika. Kalaupun ada, mereka yang menyenangi matematika atau belajar matematika hanyalah mereka yang pandai atau berkemampuan intelektual  di atas rata-rata temannya.

Tantangan lain tampak dari fenomena yang menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang ‘kering nilai’; pembelajaran matematika hanya bermuatan materi ajar matematika. Padahal, salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas RI) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.

Menyimak tujuan pembelajaran matematika di atas dan mengamati penyelenggaraan pembelajaran matematika selama ini, kebanyakan guru memang belum begitu optimal dalam mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Kadangkala, sebagian guru masih terbelenggu oleh kebiasaan yang kurang baik, misalnya mengelola pembelajaran matematika hanya sekadar mengejar target kurikulum, atau mengelola pembelajaran matematika cenderung otoriter dan indoktrinatif.

Pada sisi lain, dalam mengelola pembelajaran matematika masih banyak guru kelas di SD atau guru mata pelajaran matematika di sekolah pada jenjang yang lebih tinggi belum dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya. Menjadi teladan dalam hal ini dimaksudkan bahwa guru menunjukkan sikap-sikap keteladanan berkaitan dengan matematika atau pembelajaran matematika, seperti rasa ingin tahu, penuh perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, ulet dan percaya diri. Masih banyak guru matematika belum menunjukkan sikap sabar dan tekun dalam mengelola pembelajaran, maupun dalam memecahkan masalah. Bahkan dari hal-hal yang kecil saja, masih banyak guru matematia kurang disiplin dalam waktu, kurang rapi dalam menulis, kurang inovasi dan kreasi dalam bekerja, serta kurang motivasi untuk selalu mengembangkan diri.

Orang bijak sering mengatakan  bahwa kita harus dapat menyiasati hidup dengan mengubah setiap tantangan yang kita hadapi menjadi peluang untuk berbuat sesuatu. Keterampilan mengubah tantangan menjadi peluang dapat dikatakan merupakan sebuah keterampilan strategis; keterampilan ini penting dalam mengelola hidup dan kehidupan.

Seorang guru matematika juga dituntut untuk mampu mengatasi setiap tantangan yang ditemuinya dalam pembelajaran matematika menjadi berbagai peluang yang positif dan produktif. Sebagai contoh, ketika masih banyak siswa ‘belum cinta’ dengan matematika atau dengan belajar matematika, guru matematika dapat mengupayakan beberapa hal seperti mengubah model, strategi, pendekatan, metode, atau teknik pengelolaan pembelajaran sedemikian hingga memungkinkan lebih berkembangnya segenap potensi belajar siswa, baik fisik maupun mental. Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, misalnya metode penemuan terbimbing, tanya jawab, dan penugasan secara individu dan berkelompok, mungkin dapat lebih mengaktifkan belajar siswa daripada hanya menggunakan metode ceramah, ekspositori, atau penugasan individu. Penggunaan open-ended approach dalam pembelajaran matematika dapat lebih mengoptimalkan berkembangnya inovasi dan kreasi siswa dalam menyelesaikan suatu masalah matematika di samping mengoptimalkan berkembangnya kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Penggunaan berbagai model pembelajaran kooperatif dapat lebih mengoptimalkan kemampuan bekerjasama antarsiswa daripada penggunaan model pembelajaran langsung. Namun perlu dicatat, bahwa penggunaan model, strategi, pendekatan, metode, atau teknik pengelolaan pembelajaran itu sangat tergantung pada kebutuhan pembelajaran matematika pada waktu dan situasi tertentu di sekolah.

Pembelajaran matematika yang ‘kering nilai’ dapat dikembangkan guru matematika dengan mengintegrasikan dan/atau menekankan pentingnya nilai-nilai positif dari budaya dan karakter bangsa dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh, guru dapat memulai dengan merencanakan proses pembelajaran matematika yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Nilai-nilai itu dapat diintegrasikan dalam rancangan kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, dan/atau tujuan pembelajaran.

Selanjutnya, dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru matematika dapat mengelola pembelajaran matematika yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, misalnya sikap jujur, rasa ingin tahu, kreatif, inovatif, ulet, tekun, percaya diri, pantang menyerah, bertanggung jawab, dan teguh dalam pendirian. Untuk itu, prasyarat yang harus dimiliki seorang guru matematika tentu adalah penerapan nilai-nilai itu terlebih dahulu dan pola sikap, pola tutur, dan pola tingkah laku ‘sang guru’ sendiri. Ini artinya, guru perlu menjadi teladan terlebih dahulu bagi peserta ddiknya!

Membicarakan keteladan seorang guru matematika sangat erat kaitannya dengan pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Mungkin masih kuat dalam ingatan kita pesan Ki Hajar Dewantara dengan mottonya ing ngarso sung tulodo. Dengan pesan luhur ini, guru diharapkan dapat menjadi sosok yang patut digugu dan ditiru. Guru diharapkan dapat menjadikan sikap, tutur, dan tingkah lakunya dalam mengelola pembelajaran penuh dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sehingga dapat dijadikan contoh yang baik oleh para peserta didiknya.

Guru adalah juga seorang pemimpin. Kouzes dan Posner (2007) berpandangan bahwa memimpin berarti kita harus menjadi contoh yang baik dan mewujudkan apa yang kita katakan. Gelar yang kita miliki merupakan pemberian, akan tetapi kehormatan merupakan sesuatu yang hanya dapat dicapai melalui tingkah laku yang baik. Oleh karena itu, guru dapat menjadi pemimpin pembelajaran yang bukan saja ing ngarso sung tulodo, namun juga ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani.

Pembelajaran matematika memfasilitasi proses belajar siswa untuk mnguasai berbagai kompetensi matematis. Di balik itu, siswa bukan saja dapat menguasai berbagai kompetensi matematis namun juga dapat mengembangkan dan mewujudkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Hal ini memberi pengertian bahwa pembelajaran matematika dapat turut membangun budaya dan karakter bangsa.

Para guru, termasuk guru-guru matematika, sebagai agen pembelajaran sekaligus agen perubahan, dapat menjadi guru-guru terbaik bagi peserta didiknya. Untuk itu, guru dituntut menjadi sumber inspirasi sekaligus menjadi inspirator bagi mereka.

Daftar Pustaka

Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010.

Kouzes, J.M. & Posner, B.Z. 2007. The Leadership Challenge. 4th Ed. San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pusat Kurikulum. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Budaya. Jakarta: Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

*)  Disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya, tanggal 16 Oktober 2010 di Palembang (Pirdaus)

About these ads

About pirdaus

Pendidik
This entry was posted in Pembelajaran and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s