LEMBAR KERJA SISWA (LKS) SEBAGAI SUMBER BELAJAR

A. Pendahuluan

Guru merupakan agen pembelajaran sekaligus agen perubahan. Peran guru dalam mengelola pembelajaran begitu penting sehingga guru perlu terus menerus mengembangkan diri dan mengembangkan proses pembelajaran yang dikelolanya. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya aktivitas, kreativitas, minat, dan motivasi belajar siswa. Pada gilirannya, diharapkan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan diri sekaligus mengembangkan proses pembelajarannya adalah mengembangkan sumber belajar bagi diri maupun peserta didiknya. Sebagai contoh, guru dapat membuat atau menyusun sendiri lembar kerja siswa (LKS) untuk dijadikan sebagai sumber belajar bagi peserta didik.

B. Sumber Belajar

Sumber belajar merupakan informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum.  Bentuknya tidak terbatas dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru (Depdiknas, 2008). Menurut Association for Educational Communications and Technology (dalam Depdiknas, 2008), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun secara terpadu untuk kepentingan pembelajaran dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Berdasarkan batasan-batasan di atas, secara singkat dapat dikatakan bahwa sumber belajar adalah segala bentuk sumber informasi yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

Terdapat beberapa jenis sumber belajar yang dapat digunakan guru untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Sumber belajar  (Depdiknas, 2008) dapat dikategorikan sebagai berikut.

  1. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu di mana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku.
  2. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi siswa.
  3. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana siswa dapat belajar sesuatu.
  4. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, atau web yang dapat digunakan untuk belajar.
  5. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh siswa.
  6. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Bahan ajar disusun dengan tujuan berikut, antara lain adalah menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa; membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh; dan memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran (Depdiknas, 2008). Tujuan penyusunan bahan ajar di atas dapat dikembangkan guru sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran, misalnya untuk membantu kesulitan siswa dalam memahami suatu konsep, menggunakan konsep, atau memecahkan masalah.

Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Di antara prinsip pembelajaran tersebut adalah:

  1. mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak;
  2. pengulangan akan memperkuat pemahaman;
  3. umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa;
  4. motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar;
  5. mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu;
  6. mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan (Depdiknas, 2008).

Uraian di atas menunjukkan bahwa terdapat cukup banyak jenis bahan ajar. Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, LKS, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.  Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti  video compact disk, film.  Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material)  seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials) (Depdiknas, 2008).

C.    Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS menurut Indrianto (1998) adalah lembar kerja siswa yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang mencerminkan keterampilan proses  agar  siswa memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang perlu dikuasainya. LKS (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.  LKS biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kaitannya dengan kompetensi yang akan dicapai (Depdiknas, 2008). Untuk mengerjakan tugas-tugas dalam sebuah LKS, siswa dapat menggunakan dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.

Untuk menyusun LKS, guru dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

Menganalisis kurikulum

Analisis kurikulum dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKS. Biasanya dalam menentukan materi dianalisis dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar dari materi yang akan diajarkan, kemudian kompetesi yang harus dimiliki oleh siswa.

Menyusun peta kebutuhan LKS

Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKS-nya juga dapat dilihat. Sekuens LKS ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Diawali dengan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.

Menentukan judul-judul LKS

Judul LKS ditentukan atas dasar KD-KD, materi-materi pokok atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu KD dapat dijadikan sebagai judul LKS apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, Besarnya KD dapat dideteksi antara lain dengan cara apabila diuraikan ke dalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 MP, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul LKS. Namun apabila diuraikan menjadi lebih dari 4 MP, maka perlu dipikirkan kembali apakah perlu dipecah misalnya menjadi 2 judul LKS.

Menulis LKS

Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Perumusan KD yang harus dikuasai; rumusan KD pada suatu LKS langsung diturunkan dari dokumen SI.
  2. Penentuan alat penilaian; bahwa penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja siswa.  Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi yang penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Panilaian Acuan Kriteria (PAK) atau Criterion Referenced Assesment.
  3. Penyusunan materi; yakni tergantung pada KD yang akan dicapai. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja dalam LKS ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama waktunya.
  4. Struktur LKS, secara umum adalah sebagai berikut:
  • Judul
  • Petunjuk belajar (petunjuk siswa)
  • Kompetensi yang akan dicapai
  • Informasi pendukung
  • Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
  • Penilaian

D.    Penutup

Saat ini, dibutuhkan bukan sekadar guru yang kompeten dalam tugas pokoknya, namun juga guru yang selalu ingun dan mau mengembangkan dirinya. Pengembangan kompetensi guru dalam pembuatan LKS merupakan suatu upaya positif dan bermanfaat.

Guru dapat mengembangkan LKS dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang sudah tersedia. Misalnya, guru dapat mengembangkan LKS berbasis web atau LKS dengan dua-bahasa (Inggris dan Indonesia). Guru juga dapat mengembangkan LKS dengan pola kerja atau pola penggunaan tertentu, sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Sumber Rujukan:

Depdiknas.. 2008. Pengembangan Bahan Ajar. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

(Disajikan pada kegiatan MGMP Matematika Kabupaten Ogan Ilir di SMPN 1 Tanjung Raja, tanggal 20 Oktober 2010).

About pirdaus

Pendidik
This entry was posted in Sumber Belajar and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s